Langsung ke konten utama

Semangat Membaca Para Sahabat dan Ulama



Perintah pertama yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibri ialah perintah membaca yaitu “Iqra” yang artinya bacalah. Dengan sambungan ayat setelahnya bacalah dengan menyebut nama tuhan yang menciptakan sesuatu. Anjuran membaca sangatlah mulia, karena membaca adalah cara memahami suatu perkara. Kalimat iqra bukan hanya berarti membaca Alquran, akan tetapi lebih bersifat universal. Yaitu kita disuruh semua keadaan yang terjadi pada diri kita maupun orang lain.
Maka dari itu setelah Rasulullah wafat dan meninggalkan dua perkara yang besar, yang apabila kita tidak akan pernah tersesat jika kita selalu merujuk setiap permasalahan kepada ini yaitu Al-quran dan Al-hadits. Maka para sahabat dan ulama tak henti hentinya terus mengkaji dan mendalami apa yang termaktub di kitab itu, dan buku buku yang menjelaskan kesempurnaanya. Tercatat seorang sahabat Rasul yang  gemar mencari sebutir ilmu pengetahuan yang masih mengganjal di pikiranya. Ia pun rela berpindah pindah dari satu rumah ke rumah yang lain hanya untuk mencari ilmu.
Para ulama pun tak mau kalah hebatnya dalam mencari ilmu dan membaca buku setiap harinya. Mereka menjadikan buku bacaan sebagai pengganti dari makanan pokoknya dan bantal sebagai alas tidurnya. Seperti Ibnu Jahm menjadikan buku sebagai pengusir ngantuknya . Jika ia mengantuk, maka kedua matanya terfokus kepada buku dan dibacanya setiap butiran kata kata itu.
Al-Hasan alLu’lu-i selama 40 tahun tidaklah tidur kecuali kitab berada di atas dadanya. Al-Hafidz alKhothib tidaklah berjalan kecuali bersamanya kitab yang dibaca, demikian juga Abu Nu’aim alAsbahaany (penulis kitab Hilyatul Awliyaa’). Al-Hafidz Abul ‘Alaa a-Hamadzaaniy menjual rumahnya seharga 60 dinar untuk membeli kitab-kitab Ibnul Jawaaliiqy. Begitulah semangat para ulama dalam membaca buku buku. Menjadikan buku buku sebagai pemenuh kehidupan, tanpa buku hidup mereka terasa hampa, jauh dari kenikmatan. Buya hamka rela dipenjara asalkan ada perpustakaan di penjaranya. Begitu juga Ust. Yusuf Mansur menulis buku pertama karanganya di penjara.
Karena membaca adalah jendela untuk memahami isi dunia dan akhirat. Maka barang siapa yang jarang membaca, susah baginya untuk membuka jendela dunia. Dalam pepatah arab”Sebaik baik teman duduk adalah buku”.

Komentar